Saturday, November 07, 2009

Keluarga Bung Tomo Beri Penghargaan Kepada Presiden

TEMPO Interaktif, Surabaya - Keluarga Bung Tomo memberikan penghargaan kepada 33 lembaga maupun perorangan yang dinilai ikut membantu hingga pria bernama asli Sutomo itu mendapatkan gelar pahlawan nasional pada 2008 lalu.

Pemberian penghargaan itu dilakukan di sebuah rumah makan di Jalan Bubutan Surabaya Sabtu (7/11) malam ini. "Pemberian penghargaan Ini wujud ungkapan terima kasih kami kepada pihak-pihak yang telah membantu Bung Tomo meraih gelar pahlawan," kata putera Bung Tomo, Bambang Sulistomo kepada Tempo di Museum Tugu Pahlawan, Sabtu sore.

Menurut Bambang, pihak-pihak yang akan diberi penghargaan itu antara lain Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bekas menteri sosial Bachtiar Chamsyah, Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf, Wakil Walikota Surabaya Arif Afandi, Radio Republik Indonesia dan sejumlah media massa. "Momentum pemberian penghargaan ini bersamaan dengan peringatan hari pahlawan," kata Bambang.

Bambang yang mengenakan seragam ala pejuang tempo dulu bersama Gus Ipul -sapaan akrab Syaifullah Yusuf dan Arif Afandi, selanjutnya menonton film dokumenter peristiwa 10 Nopember 1945 dan mendengarkan rekaman pidato Bung Tomo di dalam museum Tugu Pahlawan.

Sejumlah orang yang mengenakan pakaian ala pejuang ikut mendampingi mereka. Syaifullah menyatakan Bung Tomo layak memperoleh gelar pahlawan karena jasanya yang besar pada perang 10 Nopember di Surabaya. Namun di era orde baru pemerintah tak meluluskan upaya tersebut. "Pemprov Jatim mendukung keinginan keluarga Bung Tomo yang memberikan penghargaan kepada sejumlah pihak," kata Syaifullah.


http://tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/11/07/brk,20091107-206986,id.html

Friday, August 28, 2009

Nasir al-Din al-Tusi

Hari ini genap sepekan umat muslim mengarungi luasnya nikmat-Nya di samudera bulan Ramadhan. Kali ini saya mau bercerita sedikit tentang ilmuwan muslim. Pertama kali, saya tahu nama beliau ini saat kunjungan saya ke Adler Planetarium, Chicago, USA. Beliau adalah Nasir al-Din al-Tusi.

Nasir al-Din lahir di Tus pada tahun 1201 (597 H) dan meninggal di Baghdad pada tanggal 8 Dhu’l Hijja 672 H atau 25 Juni 1274. Dalam usia muda, beliau hijrah ke Nishapur untuk belajar filsafat dalam bimbingan farid al-Din Damad dan matematika dalam bimbingan Muhammad Hasib. farid al-Din al-'Attar, seorang guru sufi yang melegenda, juga pernah menjadi guru beliau. Sedangkan beliau belajar matematika dan astronomi dengan Kamal al-Din Yunus di Mawsil.
Ketika tentara Mongol menginvasi tanah kelahirannya, beliau harus sering berpindah tempat. Dan saat itulah beliau mulai berkontribusi banyak dalam bidang sains.

Dan beberapa kontribusinya adalah :

Fisika dan Kimia:

Berkaitan dengan kekekalan materi. Beliau berpendapat bahwasanya materi tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat berubah bentuk, kondisi, komposisi, warna, atau sifat lainnya. Perubahan ini bisa saja menjadi bentuk yang lebih kompleks bahkan bisa ke lebih sederhana.

Matematika :

Hukum sinus pada segitiga datar (plane triangles) adalah salah satu buah pikir beliau. Masih ingatkah kalian semua dengan hukum sinus ini?

(a/sin A) = (b/sin B) = (c/ sin C)

Beliau juga menemukan dan membuktikan hukum tangen pada spherical triangle.
Dan pada tahun 1265 Nasir al-Din menulis manuskrip tentang penghitungan akar ke-n sebuah bilangan bulat.

Biologi :

Nasir al-Din dipercaya sebagai Darwin-nya abad ke-13. Teori evolusinya diawali dengan alam semesta yang mengandung unsur-unsur yang hampir mirip dan seimbang jumlahnya. Kemudian terjadilah kontradiksi internal, dan beberapa senyawa berkembang lebih cepat daripada senyawa lainnya. Nasir al-Din juga menjelaskan evolusi dari elemen-elemn dasar tadi menjadi bentuk mineral, tumbuhan, hewan, kemudian manusia.

Astronomi :

Nasir al-Din pernah meyakinkan Hulegu Khan, penguasa dari Mongol, untuk membangun observatorium untuk membuat tabel astronomi yang lebih akurat yang digunakan untuk prediksi astrologi. Dan akhirnya pada tahun 1259, dibangunlah Observatorium Maragheh (Rasad Khaneh) di Maraghen, provinsi Azerbaizan Timur, Iran. Observatorium ini terbesar pada jamannya, terdiri atas deretan bangunan di area 150 x 350 meter.

Dalam buku Zij-i ilKhani, terdapat tabel yang akurat tentang pergerakan planet dan juga nama-nama bintang.

Thursday, December 25, 2008

Nama saya di suatu Media :)

Tulisan ini berupa liputan kegiatan yang berlangsung selama APRIM di Bali.


Belajar Astronomi Itu Menyenangkan

Ayu Sulistyowati (Kompas)

Seorang pelajar perempuan mencoba memejamkan mata kanannya. Mata kirinya dirapatkan pada bibir lensa sebuah teleskop. Seorang pemandu pun membimbingnya untuk melihat Jupiter, Jumat (29/7) malam di tepian pantai Nusa Dua, Bali.
Sayangnya, langit malam itu tidak terlalu cerah. Malam itu awan mendung seolah menelan bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Namun masih ada yang tersisa, yaitu Jupiter dan sebuah rasi bintang di selatan, rasi bintang Scorpius.
"Bagaimana? Jupiter sudah terlihat?" kata Ayu, mahasiswa semester tiga Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), yang memandu pelajar perempuan tersebut.
"Wow," kata pelajar itu kagum, dengan mata kirinya masih mengintip dari lensa teropong.
Puluhan pelajar malam itu berkumpul di Nusa Dua dalam acara pesta bintang. Namun, pesta itu bukan seperti sebuah pesta dengan makanan, minuman, atau ingar-bingar musik, melainkan pesta para astronom pada penutupan pertemuan astronom Asia-Pasifik 2005. Para astronom itu mengajak para pelajar menikmati keindahan tata surya.
Mereka ditawarkan memandang indahnya langit ciptaan Tuhan dengan tujuh teleskop yang khusus didatangkan dari Observatorium Bosscha Lembang, Bandung, dan Planetarium Jakarta.
Bagi para pelajar di Bali, melihat planet, menghitung diameter Matahari, hingga menemukan rasi bintang dari utara dan selatan sambil mengawasi perubahan langit dengan teleskop ternyata menyenangkan. Mereka merasa mendapatkan pengalaman baru. "Sebelumnya kami hanya mengenal planet dan tata surya di buku pelajaran saja. Sekarang saya bisa melihatnya lewat teropong beneran!" kata Ni Komang Hariningsih.
Selain mendapat kesempatan berpesta bintang dengan para astronom, para pelajar itu secara bergantian mendapat sosialisasi dari mahasiswa dan alumni astronomi ITB serta Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ). Sosialisasi dipusatkan di Gedung SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 4 Denpasar.
Di antara para pelajar terdapat beberapa guru sebagai pendamping mereka. Salah satu guru tersebut adalah I Wayan Sentana (42), guru Geografi di SMA Negeri 2 Mengwi, Kabupaten Badung, yang merangkap di tiga SLTA swasta di Denpasar dan Tabanan.
Meski Wayan Sentana seorang guru Geografi, ia mengungkapkan rasa senangnya dapat melihat secara langsung langit dengan menggunakan teleskop. "Di sekolahan tempat saya mengajar di Mengwi, ada dua teleskop dengan model lama, tetapi sudah rusak dan karatan. Sayang sekali," kata Wayan. Ia pun mengeluhkan susahnya mendapatkan buku-buku astronomi.
Meskipun demikian, Wayan mampu mengantarkan Suta Wisnawa, murid kelas II, didikannya, menjuarai Olimpiade Astronomi 2005 Tingkat Kabupaten Badung. Padahal, ia hanya berbekal buku terbitan tahun 2001 dan beberapa pelajaran yang terkait dengan astronomi.
Pengalaman menyenangkan dengan astronomi dialami Yudhiakto Pramudya. Pria berusia 25 tahun itu sudah bergabung dengan HAAJ selama lima tahun. Sebelumnya ia hanya bisa membayangkan sambil memandangi langit penuh bintang.
Dengan astronomi, Yudhiakto mengaku dapat belajar logika lebih tajam dan memberikan contoh-contoh fisika kepada teman-teman dan adik angkatan di jurusannya. "Senangnya itu ada di hati ketika melihat pemandangan langit dan itu tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata," ujarnya.
Hingga saat ini anggota HAAJ sekitar 100 orang dan yang aktif sekitar 20 orang. Anggotanya pun mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari ibu rumah tangga, anak SD, hingga sarjana (selain astronomi). Dari jumlah anggota tersebut, yang memiliki teleskop dapat dihitung dengan jari.
Ketua Organizing Committee The 9th Asian-Pacific Regional International Astronomical Union Meeting dan pengajar di ITB Premana W Premadi mengatakan mendukung upaya memajukan bidang astronomi melalui populerisasi kepada pelajar dan mahasiswa.
Menurut dia, Indonesia perlu mengembangkan astronom-astronom amatir. Dari astronom amatir, para astronom dapat berbagi pengalaman dan memanfaatkan ketertarikan mereka dalam penelitian. Bagi dia, astronom di negara berkembang pun tidak akan pernah maju jika hanya berkutat dan meratapi ketidakmampuan membeli peralatan yang sangat mahal untuk kepentingan penelitian.
Justru para pelajar dari Indonesia, Jepang, dan Korea dapat menjadi contoh elan pengembangan di bidang astronomi dengan alat yang sangat sederhana sekalipun. Jangan salah, teleskop yang paling sederhana pun dapat dibuat sendiri. Bahan baku pipa paralon, lembar film bekas, karton, bambu, atau kayu untuk tiang penyangga dapat dijadikan sebuah teleskop. Teleskop sederhana itu biasa disebut teleskop jarum, berguna mengukur diameter Matahari.
Bahkan untuk membuktikan warna-warna mejikuhibiliu dari pelangi pun bisa dengan alat sederhana. Persiapkan saja karton, disesuaikan dengan pola, kepingan CD bekas, maka jadilah sebuah alat eksperimen warna pelangi.
"Jadi, bukan berarti kami tidak bisa apa-apa tanpa alat sekalipun kami hanya astronom amatir," kata Yudhiakto semangat.
Premana menjelaskan, pemberdayaan astronom amatir tersebut merupakan upaya memacu penelitian di bidang astronomi. Selain itu, juga untuk mengubah pandangan bahwa ilmu astronomi tidak menarik atau tidak dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Potensi terdekat mengembangkan pendidikan dan populernya bidang astronomi adalah sosialisasi kunjungan ke sekolah-sekolah.
"Asalkan seluruh materinya tidak menyimpang dan disesuaikan dengan kurikulum yang berjalan di SLTP dan SLTA," ujar Premana.
Langit pada pukul sepuluh malam itu mulai mendung dan tak ada lagi kerlip bintang terlihat. Alat-alat teleskop pun mulai dibereskan. "Sayang malam ini mendung terlalu cepat menutupi bintang dan Jupiter," kata seorang pelajar sambil melangkah berlalu bersama beberapa teman lainnya.
Sumber : Kompas (1 Agustus 2005)

Saturday, November 08, 2008

Bung Tomo tunggu 27 tahun

[ Jawa Pos, Sabtu, 08 November 2008 ]


Bung Tomo Tunggu 27 Tahun, Natsir 15 Tahun
Untuk Dapat Gelar Pahlawan Nasional
JAKARTA - Ikon Hari Pahlawan, Sutomo alias Bung Tomo, akhirnya resmi dianugerahi gelar pahlawan nasional. Kemarin (7/11) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara memberikan gelar pahlawan nasional kepada pemimpin pertempuran 10 November 1945 itu.

Dalam kesempatan tersebut, ada tiga tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional. Selain almarhum Sutomo, gelar pahlawan diberikan kepada almarhum Mohammad Natsir dan KH Abdul Halim (ketua umum Persatuan Umat Islam). SBY juga menyerahkan Bintang Mahaputera Utama untuk almarhum Petta Lolo La Sinrang, tokoh pejuang Kerajaan Sawitto (Sulsel). Kemudian, Bintang Budaya Parama Dharma untuk almarhum Wahyu Sihombing (sutradara) dan almarhum Marah Rusli (penulis/sastrawan).

Gelar pahlawan bagi Bung Tomo diterima Sulistina Sutomo, istri Bung Tomo. Perempuan 83 tahun itu hadir bersama putra bungsunya, Bambang Sulistomo. ''Alhamdulillah. Saya lega dan bersyukur. Terima kasih untuk warga Jawa Timur yang sudah memperjuangkan mulai tahun 1980-an,'' kata Sulistina.

Dia berharap agar generasi muda bisa meneladani Bung Tomo yang selalu berjuang tanpa pamrih. Mengenai sulitnya gelar pahlawan diraih Bung Tomo, Sulistina mengaku tidak pernah ngoyo. ''Kebenaran itu pasti muncul meski ditutupi,'' katanya.

Wakil Wali Kota Surabaya Arif Afandi yang ikut mendampingi keluarga Bung Tomo mengaku senang dengan gelar pahlawan bagi pria kelahiran Blauran, 3 Oktober 1920, itu. ''Atas nama warga Surabaya, saya ucapkan terima kasih kepada presiden. Ini menjadi kebanggan bagi arek-arek Suroboyo,'' kata Arif.

Bagi Surabaya, gelar pahlawan tersebut mengukuhkan status Surabaya sebagai Kota Pahlawan. ''Sempat mengherankan, hari pahlawan di Surabaya, tapi tidak ada pahlawan dari Surabaya,'' tandasnya. Pemberian gelar pahlawan nasional bagi Bung Tomo dan Natsir memang cukup melegakan.

Bung Tomo butuh waktu 27 tahun -sejak meninggal pada 1981- untuk ditetapkan sebagai pahlawan nasional. M. Matsir butuh 15 tahun (meninggal 6 Februari 1993). Gelar pahlawan bagi Natsir diterima putra bungsunya, Ahmad Fauzie Natsir, 66. Gelar pahlawan itu sangat mengharukan bagi keluarga Natsir. ''Ini kami dedikasikan bagi seluruh warga Indonesia,'' kata pemilik Pondok Pesantren Darussallah, Bogor, itu.

Natsir merupakan tokoh Islam yang sangat terkenal. Pria kelahiran Minangkabau 17 Juli 1908 itu pernah menjabat perdana menteri sejak 5 September 1950 hingga 26 April 1951. Natsir juga dikenal sebagai mantan ketua Masyumi, unsur pimpinan PRRI, dan ketua Dewan Islamiyyah Indonesia (DDII).(tom/oki)

Monday, November 03, 2008

Akhirnya, Bung Tomo mendapat Gelar Pahlawan Nasional

Dari Jawapos 3 November 2008





Akhirnya, Bung Tomo mendapat Gelar Pahlawan Nasional
JAKARTA - Upaya merebut status pahlawan bagi Bung Tomo sama berliku dengan jalan perjuangannya. Setelah Departemen Sosial menyebutkan bahwa Bung Tomo tidak masuk daftar sebelas nama yang diusulkan mendapat gelar pahlawan nasional kepada presiden pada Jumat (1/11), kemarin pernyataan itu dianulir. Menkominfo Mohammad Nuh memastikan bahwa nama Sutomo alias Bung Tomo ada di dalam daftar tersebut.

Nuh menyatakan, pada 9 November nanti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan satu gelar kepahlawanan Bung Tomo kepada keluarga arek Suroboyo itu. Nuh mengatakan, dirinya mendapat informasi tersebut langsung dari Presiden SBY sebagai pemegang hak prerogratif pemberian gelar pahlawan nasional. ''Presiden sudah sampaikan ke saya bahwa Bung Tomo akan diresmikan sebagai pahlawan nasional,'' tegasnya kemarin.

Informasi terbaru itu tentu saja melegakan masyarakat yang sudah lama menanti gelar kepahlawanan dari tokoh yang terkenal dengan semboyan rawe-rawe rantas, malang-malang putung itu. Sebab, Departemen Sosial, yang berwenang mengusulkan kandidat pahlawan nasional, sehari sebelumnya masih menutup-nutupi informasi tersebut.

Depsos memang telah mengusulkan sebelas nama calon pahlawan nasional kepada SBY. Saat nama Bung Tomo ditanyakan, pihak Depsos tutup mulut. Karena itu, muncul spekulasi bahwa nama Bung Tomo kembali terlewat.

Ketika ditanya seputar status Bung Tomo, waktu itu Direktur Kepahlawanan, Keperintisan, dan Kesetiakawanan Sosial (K2KS) Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial Depsos Muchsis Malik menolak memberikan keterangan dan menyatakan bahwa sebelas nama itu dari unsur sipil. Sayang, ketika berkali-kali Jawa Pos mengonfirmasi ulang perihal topik yang sama tadi malam, telepon seluler Muchsis tidak aktif.

Setelah rencana Depsos itu disebarluaskan media, Nuh mengatakan telah mengecek kembali ke pihak Depsos. Hasilnya, ternyata nama Bung Tomo sudah ada di antara sebelas nama calon pahlawan yang diusulkan Depsos tersebut. ''Insya Allah, Bung Tomo menjadi pahlawan nasional,'' kata mantan rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, itu.

Menanggapi pernyataan Depsos yang menyebut belum memasukkan nama Bung Tomo, Nuh mengatakan bahwa itu sudah dikoreksi. ''Tidak begitu penting dengan yang diumumkan Depsos, bisa jadi ada pengusulan lagi. Kan tidak masalah,'' terangnya.

Bung Tomo yang lahir pada 3 Oktober 1920 merupakan ikon Hari Pahlawan. Pria asal Blauran, Surabaya, itu menjadi tokoh penting dalam Pertempuran 10 November 1945, saat tentara NICA masuk ke Surabaya.

Pria bernama asli Sutomo itu meninggal di Makkah pada 7 Oktober 1981. Salah satu wasiat Bung Tomo kepada keluarga adalah tidak mau dimakamkan di taman makam pahlawan. Sikap itulah yang kemungkinan membuat pemerintah tersinggung sehingga 27 tahun setelah Bung Tomo meninggal baru diakui sebagai pahlawan nasional.

Putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo, saat dihubungi Jawa Pos mengaku belum mendapat pemberitahuan dari pemerintah. Namun, mendengar kabar baik itu, Sulistomo menyatakan sangat senang. ''Kami sekeluarga bersyukur kepada Allah SWT,'' kata Sulistomo.

Bila undangan dari istana sampai, kata Sulistomo, gelar pahlawan akan diterima oleh istri Bung Tomo, Sulistina Sutomo, 83. Sulistomo akan mendampingi sang ibu ke istana. (tom/zul/kit/kim)

Sunday, November 02, 2008

Bung Tomo adalah Pahlawan Nasional

Dari Jawapos, Minggu 2 November 2008




Bung Tomo Terlewat Lagi
Depsos Kembali Tak Usulkan sebagai Pahlawan Nasional

JAKARTA - Arek-arek Suroboyo kembali kecewa. Menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 November nanti, pemerintah kembali akan menetapkan sejumlah tokoh sebagai pahlawan nasional. Namun, nama tokoh pertempuran melawan tentara sekutu pada 10 November di Surabaya, Bung Tomo, kembali tidak masuk daftar pahlawan nasional yang akan disahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.

Tahun ini Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah akan mengusulkan sebelas nama calon pahlawan nasional kepada presiden. Kemudian, presiden akan menyerahkan tanda kepahlawanan kepada keluarga sang pahlawan pada 10 November. ''Sebelum 7 November tidak bisa kami sebutkan.'Sebab, presiden punya hak prerogatif dan bisa saja usul nama itu berkurang,'' kata Direktur Kepahlawanan, Keperintisan, dan Kesetiakawanan Sosial (K2KS) Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial Depsos Muchsis Malik kemarin. Pernyataan tersebut disampaikan setelah sosialisasi Kegiatan Peringatan Hari Pahlawan, Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional, dan East Asia Ministral Forum On Family di kantor Depsos.

Muchsis memastikan nama Bung Tomo tidak termasuk dalam sebelas nama yang diusulkan Depsos. Sayang, Depsos tidak mau menjelaskan alasan terlewatnya nama Bung Tomo dalam usul pahlawan nasional.

Menurut Muchsis, pada 16 Oktober 2008, pihaknya telah menyerahkan sebelas nama tersebut ke sekretariat negara (setneg) untuk kemudian diserahkan kepada presiden. ''Kesemuanya dari kalangan sipil. Dan, yang utama mereka sudah melalui persyaratan penting dan kami di Depsos hanya menyeleksi secara administratif,'' jelasnya.

Dia menerangkan, alur proses pengusulan adalah sepenuhnya dari masyarakat atau perwakilan masyarakat seperti organisasi masyarakat, organisasi sosial, ataupun pemerintah daerah. Setelah itu, syarat lainnya, nama yang diajukan tersebut harus diseminarkan. Tentunya didukung data-data valid mengenai sejarah dan jasa-jasanya. ''Dari situ kemudian diusulkan kepada Badan Pembina Pahlawan Pusat yang bersifat independen untuk diserahkan kepada Depsos,'' kata Muchsis.

Menurut dia, bisa saja seorang tokoh besar tidak bisa dicalonkan sebagai pahlawan nasional karena sebelum meninggal sempat melakukan perbuatan tercela. ''Apabila yang bersangkutan melakukan perbuatan yang tercela, akan sangat menjelekkan citranya,'' seloroh Muchsis.

Kepala Humas Depsos Heri Krisritanto menambahkan, Depsos hanya mengusulkan. Presiden yang punya hak prerogratif menentukan gelar pahlawan nasional. Tahun lalu Depsos mengusulkan empat tokoh menjadi pahlawan nasional. Mereka adalah A.K. Gani, Slamet Riyadi, Ida Anak Agung Gde Agung, dan Moestopo. Mereka melengkapi 137 pahlawan nasional yang telah diangkat sejak 1959.

Nama Bung Tomo sebenarnya sudah berkali-kali diusulkan menjadi pahlawan. Baik oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun DPRD Jatim. Namun, pemerintah, rupanya, tidak menggubris usul tersebut. Padahal, dalam sejarah kemerdekaan, nama Bung Tomo menjadi ikon hari pahlawan, sebagai tokoh utama dalam pertempuran 10 November 1945 di Hotel Oranye, Surabaya.

Sekjen PP GP Ansor Malik Haramain mengaku kecewa dan prihatin tidak diberikannya gelar pahlawan nasional bagi Bung Tomo. Ansor merupakan salah satu institusi yang getol mengusulkan nama Bung Tomo sebagai pahlawan nasional. ''Kami tetap mendesak pemerintah untuk memberikan gelar pahlawan nasional kepada Bung Tomo. Ini masih ada waktu,'' kata Malik. (zul/tom/kim)

Sunday, September 21, 2008

si kancil mencuri timun pak tani

Baru saja mendengarkan radio IMSA di http://www.radioimsa.org/ , sang ustadz membicarakan tentang etos kerja dan arti pentingnya tujuan dalam hidup kita. Disitu, sang ustadz menceritakan dongeng katak di negeri Jepang. Sang katak hendak jadi raja, tapi dengan syarat harus bisa naik ke batu. Dan dengan segala daya upaya dan tujuan yang jelas hendak dicapai, kaki sang katak pun makin lama makin panjang. Dan pada akhirnya katak dapat menaiki batu dan menjadi raja. Cerita ini mengilhami orang Jepang untuk selalu berusaha dan berusaha, bekerja dan bekerja untuk mencapai tujuannya.

Nah terus sang ustadz membandingkan cerita yang populer di negeri kita, yaitu dongeng si kancil. Si kancil ini entah licik entah cerdas, mencuri timun pak tani. nah akhirnya terbawa deh ke mental masyarakat negeri ini sebagai mental pencuri hehehehe..... yang dicuri timunnya pak tani pula, bayangin tuh. Pantesan negeri ini, kebijakan pemerintah kurang berpihak ke petani, padahal sawah ladang ada dimana mana.

Seperti kisah Super Toy yang jadi kontroversi di bidang pertanian. Di agung agungkan sebagai varietas baru yang bisa meningkatkan hasil panen, eh malah hasilnya jelek. Entah ini penipuan atau bukan. Yang pasti, pemerintah harus lebih serius menyikapi ide ide dari para peneliti, apalagi menyangkut masalah pertanian. Jangan terburu buru dan main main. Kan pemerintah bukan si Joker yang selalu bilang "Why So Serious?".

Namun, penelitian tentang Super toy ini pun tidak lebih dari sebuah penelitian di bidang IPTEK. Dalam sebuah penelitian, banyak yang berhasil dan tidak sedikit yang gagal. Dan juga dibutuhkan parameter parameter yang harus diperhatikan agar produk penelitian kita dapat direproduksi dengan baik. Kalau kita menyikapi kasus tersebut dengan langsung mencela hasil penelitian, sungguh amat sayang. Takutnya nanti para peneliti merasa was was untuk mempublikasikan hasil penelitiannya. Tetapi, ini juga bisa dijadikan pelajaran bagi para peneliti untuk lebih berhati hati, tidak terburu buru, dan selalu cek dan recek tentang penelitiannya. Agar tidak tergesa gesa mempublikasikannya dan memberikan janji janji surga sebelum semuanya jelas.


Aaaaaaaaaah... jadinya tulisan ini jadi meluas ya. Dari si kancil sampai ke penelitian IPTEK. Ya apapun bahasan ini, semoga kita bisa mendapat hikmahnya.